Kamis, 16 Mei 2013

Makalah Pengantar Ilmu Sosial



ILMU GEOGRAFI





DISUSUN OLEH:

                        EULIS KURNIATI            (2011 133 353)       

KELAS: 4H
KELOMPOK: 07
MATA KULIAH: PENGANTAR ILMU SOSIAL
DOSEN PENGASUH           : DEBBY MARTHALIA S.Pd, MM


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2012/2013






KATA PENGANTAR
   ASSALAMUALLAIKUM.WR WB
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas terlaksananya pembuatan makalah “Ilmu Geografi“ yang disusun oleh kelompok tujuh dalam pengerjaan tugas bidang studi Pengantar Ilmu Sosial sebagai usaha dalam peningkatan pengetahuan serta melatih keaktifan mahasiswa/ mahasiswi dalam berlangsungnya proses belajar mengajar.
            Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat  bantuan dari berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Debby Marthalia SPd, MM selaku  dosen pembimbing mata kuliah Pengantar Ilmu Sosial, anggota kelompok penyusunan makalah, serta mahasiswa/I kelas 4H yang secara langsung atau tidak langsung menuangkan ide atau inspirasi dalam penyusunan makalah ini.
            Kegiatan penyusunan makalah ini merupakan tugas pelatihan kelompok, yang masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan kemampuan kelompok, maka penyusunan makalah ini masih sangat jauh dari sempurna untuk itu saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah yang kami buat ini.
                                                                       

Palembang,  Maret 2013




   Kelompok Tujuh







DAFTAR ISI


BAB I.   Pendahuluan
  1. Latar belakang masalah
  2. Rumusan masalah
  3. Tujuan penulisan

BAB II.  Pembahasan
  1. Metode Penelitian Ilmu Geografi
  2. Generalisasi Geografi
  3. Teori – Teori Geografi
BAB III.  Penutup
  1. Kesimpulan
  2. Kritik
  3. Saran

Daftar Pustaka






BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
            Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang lokasi serta persamaan dan perbedaan (variasi) keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi. Kata geografi berasal dari Bahasa Yunani yaitu gĂȘo ("Bumi") dan graphein ("menulis", atau "menjelaskan").
            Geografi juga merupakan nama judul buku bersejarah pada subjek ini, yang terkenal adalah Geographia tulisan Klaudios Ptolemaios (abad kedua).
            Geografi lebih dari sekedar kartografi, studi tentang peta. Geografi tidak hanya menjawab apa dan dimana di atas muka bumi, tapi juga mengapa di situ dan tidak di tempat lainnya, kadang diartikan dengan "lokasi pada ruang." Geografi mempelajari hal ini, baik yang disebabkan oleh alam atau manusia. Juga mempelajari akibat yang disebabkan dari perbedaan yang terjadi itu.
            Pemahaman holistik terhadap fenomena tersebut dapat menciptakan wawasan konseptual, pola pikir, dan kemampuan aplikatif yang khas ke-ruang-an untuk diterapkan dalam berbagai bidang pekerjaan: perencanaan dan pengembangan wilayah, pengelolaan lingkungan hidup, kehutanan, pertambangan, energi, industri, transportasi, perbankan, manajemen, pemasaran, pendidikan, dan sebagainya.
            Pada makalah ini akan membahas bagaimana metode penelitian ilmu geografi, generalisasi-generalisasi geografi dan teori-teori geografi.

A.   Perumusan Masalah
            Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan penjelasan mengenai “Ilmu Geografi”. Untuk memberi kejelasan serta menghindari meluasnya pembahasan maka dalam makalah ini masalahnya dibatasi pada:
1)      Metode Penelitian Ilmu Geografi
2)      Generalisasi Geografi
3)      Teori-Teori Geografi


B.   Tujuan
            Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini adalah unutuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Sosial.
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah:
1)      Untuk mengetahui metode penelitian ilmu geografi
2)      Untuk mengetahui generalisasi geografi
3)      Untuk mengetahui teori-teori geografi









                                                BAB II
PEMBAHASAN

A.   Metode Penelitian Ilmu Geografi
            Metode itu sendiri adalah metode ilmiah yaitu cara untuk memperoleh pengetahuan yang akurat dan terpercaya. Penelitian atau riset atau studi  yaitu aktivitas ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan landasan  pemikiran ilmiah atau berfikir reflektif. Jadi penelitian merupakan suatu  kegiatan ilmiah sebagai sarana fundamental untuk memahami  kesulitan/masalah dan menemukan pemecahannya.
            Metode penelitian ilmu geografi adalah cara-cara ilmiah yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam  upaya memahami suatu permasalahan dalam pembelajaran dan pendidikan  geografi serta menemukan pemecahannya.
            Metode Penelitian Geografi berdasarkan prinsip geografi, jelaslah bahwa pengetahuan geografi diperoleh melalui penelitian. Untuk melakukan penelitian diperlukan metode. Metode penelitian geografi berguna untuk mempelajari karakteristik Bumi dan kegiatan manusia. Beberapa bentuk metode penelitian geografi sebagai berikut.
1. Studi Lapangan
Pengamatan secara langsung di lapangan berguna untuk mengetahui dan memahami permukaan Bumi serta kegiatan manusia. Metode ini dilakukan dengan terjun langsung mengamati objek di lapangan. Dengan melakukan studi lapangan akan diketahui karakteristik khusus permukaan Bumi.
2. Pemetaan
Metode ini dilakukan dengan menyeleksi berbagai informasi di daerah yang akan dipetakan. Seleksi menghasilkan informasi objek terpilih yang diperlukan saja sehingga dapat menggambarkan tempat, pola, dan karakteristik unsur geografi dalam peta.
3. Wawancara (Interview)
Metode ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada responden tentang hal-hal yang perlu diketahui. Responden diharapkan menjawab dengan jelas atas semua pertanyaan. Metode ini dipilih bila hal-hal yang ingin diketahui tidak dapat diperoleh dengan metode pengamatan. Contoh: alasan penduduk tetap tinggal dalam wilayah rawan bencana banjir.
4. Kuantitatif
Metode kuantitatif merupakan metode penelitian geografi yang menggunakan perhitungan matematika dan statistika. Pengujian hasil penelitian yang berupa angkaangka dilakukan dengan bantuan komputer. Dengan metode ini, peneliti dapat menyederhanakan informasi yang rumit dan hasil penelitian disajikan dalam bentuk yang sederhana.
5. Penggunaan Sarana Ilmiah
Metode penggunaan sarana ilmiah dalam penelitian geografi, misalnya penginderaan jauh. Penginderaan jauh dapat membantu untuk mengidentifikasi dan mempelajari permukaan Bumi yang sulit dijangkau dengan studi lapangan. Contoh penggunaan sarana ilmiah yang berupa teknologi penginderaan jauh. Belajar geografi tidaklah sulit. Agar mudah belajar geografi, kamu hanya memerlukan kerangka kerja dan mengenali aspek dalam geografi. Kerangka kerja geografi dapat berupa suatu model pendekatan terhadap suatu fenomena.
            Penelitian geografi juga merupakan kegiatan ilmiah yang dilakukan dengan langka-langkah secara sistematis untuk memecahkan suatu permasalahan geografi yang meliputi ruang sebagai suatu region sebagai objek penelitian.
Langkah-langkah penelitian geografi :
 (1) Pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang relevan dan dibutuhkan;
 (2) Evaluasi data untuk mendapatkan akurasinya dan objektivitasnya.
 (3) Analisis data untuk memaknai data dan interpretasinya 
 (4) Pengembangan teori dan prediksi
Teknik Penelitian Geografi :
 (1) Studi kepustakaan, analisi peta, survey lapangan.
 (2) Evaluasi akurasi dan relevansi informasi, data, dan pemetaan kembali.
 (3) Keterkaitan antar variable, tabulasi, kategorisasi, klasifikasi, pemetaan, uji
statistic.
 (4) Konstruksi model hasil studi dan prediksinya.
            Manusia menghadapi permasalahan hidup yang menuntut pemecahan. Permasalahan tersebut yang baru dirasakan bukan termasuk masalah, melainkan permasalahan  yang sesungguhnya dirasakan penting untuk dipecahkan.
            Permasalahan yang diatasi dengan menggunakan prosedur berpikir reflektif inilah  yang kemudian dilakukan oleh para peneliti.  Dalam kegiatan penelitian tidak terkecuali penelitian geografi memiliki karakteristik berfikir reflektif sebagai suatu kegiatan ilmiah.
B.   Generalisasi Geografi
            Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum. Generalisasi menghubungkan beberapa konsep  sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu pola hubungan yang bermakna yang  menggambarkan hal yang lebih luas.
             Artinya, dalam pikiran kita terbentuk pola-pola hubungan bermakna yang lebih luas (Djodjo Suradisastra 1991/1992:39). Menurut Nursid Sumaatmadja (1980:83), generalisasi adalah hubungan dua konsep atau lebih dalam bentuk kalimat lengkap, yang merupakan pernyataan deklaratif dan dapat dijadikan suatu prinsip atau ketentuan.
            Contoh generalisasi rendah adalah kegiatan siswa mengumpulkan data tentang bagaimana keadaan geografi mempengaruhi cara hidup orang Irian Jaya dan menyimpulkan: Keadaan geografi Irian Jaya berpengaruh terhadap cara hidup penduduk Irian Jaya. Kesimpulannya bahwa makin tinggi peradaban penduduk suatu daerah, makin tinggi penduduk itu mengontrol hidupnya .Tingkah laku orang dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat tempat orang itu menjadi anggotanya.
Macam-macam generalisasi :
1)      Generalisasi sempurna
            Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk
2)      Generalisasi tidak sempurna
            Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.
3)      Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna
            Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar.
Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:
  1. Jumlah sampel yang diteliti terwakili.
  2. Sampel harus bervariasi.
  3. Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/ tidak umum.

C.   Teori – Teori Geografi

1. Bernard Varen (1622–1650)
            Bernard Varen atau lebih dikenal dengan Varenius adalah seorang geograf asal Jerman. Anehnya, dia adalah lulusan Ilmu Kedokteran Universitas Leiden, Belanda. Dalam bukunya, Geographia Generalis, ia mengatakan bahwa geografi adalah campuran dari matematika yang membahas kondisi Bumi beserta bagian-bagiannya juga tentang benda-benda langit lainnya.
Dalam buku itu juga, Varenius membagi geografi menjadi dua, yaitu:
a. Geografi Umum
Bagian ini membahas karakteristik Bumi secara umum, tidak tergantung oleh keadaan suatu wilayah. Menurut gagasan Varenius, geografi umum mencakup tiga bagian, yaitu:
1) Terestrial, merupakan pengetahuan tentang Bumi secara keseluruhan, bentuk, dan ukurannya.
2) Astronomis, membicarakan hubungan Bumi dengan bintang-bintang yang merupakan cikal bakal ilmu Kosmografi.
3) Komparatif, menyajikan deskripsi lengkap mengenai Bumi, letak, dan tempat-tempat di permukaan Bumi.
b. Geografi Khusus
Bagian ini mendeskripsikan tentang wilayah tertentu menyangkut wilayah luas maupun sempit. Bagian ini terdiri atas tiga aspek, yaitu:
1) Atmosferis yang secara khusus membicarakan iklim.
2) Litosferis yang secara khusus menelaah permukaan Bumi meliputi relief, vegetasi, dan fauna dari berbagai negeri.
3) Manusia yang membicarakan keadaan penduduk, perniagaan, dan pemerintahan dari berbagai negeri.
2. Immanuel Kant (1724–1821)
            Selain sebagai seorang geograf, Kant juga seorang filsuf. Kant tertarik pada geografi karena menurutnya ilmu itu dekat dengan filsafat. Semua gagasan Kant tentang hakikat geografi dapat ditemukan dalam buku Physische Geographie yang ditulisnya. Menurutnya, geografi adalah ilmu yang objek studinya adalah benda-benda, hal-hal atau gejala-gejala yang tersebar dalam wilayah di permukaan Bumi.
3. Alexander von Humboldt (1769–1859)
            Pada mulanya Humboldt adalah seorang ahli botani. Ia tertarik geografi ketika ia mulai mempelajari tentang batuan. Ia diakui sebagai peletak dasar geografi fisik modern. Ia menyatakan geografi identik atau serupa dengan geografi fisik. Ia menjelaskan bagaimana kaitan Bumi dengan Matahari dan perilaku Bumi dalam ruang angkasa, gejala cuaca dan iklim di dunia, tipe-tipe permukaan Bumi dan proses terjadinya, serta hal-hal yang berkaitan dengan hidrosfer dan biosfer.
4. Karl Ritter (1779–1859)
            Seperti halnya Humboldt, Ritter juga dianggap sebagai peletak dasar geografi modern. Profesor geografi Universitas Berlin ini mengatakan bahwa geografi merupakan suatu telaah tentang Bumi sebagai tempat hidup manusia. Hal-hal yang menjadi objek studi geografi adalah semua fenomena di permukaan Bumi, baik organik maupun anorganik yang berkaitan dengan kehidupan manusia.
5. Friederich Ratzel (1844–1904)
            Ratzel adalah guru besar geografi di Leipzig. Ia mengemukakan konsep geografi dalam bukunya yang berjudul Politische Geographie. Konsep itu diberi nama Lebensraum yang artinya wilayah geografis sebagai sarana bagi organisme untuk berkembang. Ia melihat suatu negara cenderung meluaskan Lebensraum-nya sesuai kekuatan yang ia miliki.
6. Elsworth Huntington (1876–1947)
            Huntington adalah geograf asal Amerika Serikat. Melalui bukunya yang berjudul The Pulse of The Earth, ia memaparkan bahwa kelangsungan hidup dan peradaban manusia sangat dipengaruhi oleh iklim. Atas dasar teorinya itu, Huntington kemudian terkenal sebagai determinis iklim (memandang iklim sebagai penentu kehidupan). Ia mengatakan, geografi sebagai studi tentang fenomena permukaan Bumi beserta penduduk yang menghuninya. Ia menjelaskan adanya hubungan timbal balik antara gejala dan sifat-sifat permukaan Bumi dengan  penduduknya.
7. Paul Vidal de la Blache (1845–1918)
            Vidal adalah geograf asal Prancis. Ia adalah pelopor posibilisme dalam geografi. Posibilisme (teori kemungkinan) muncul setelah Vidal melakukan penelitian untuk membuktikan interaksi yang sangat erat antara manusia dan lingkungan pada masyarakat agraris pramodern.
            Ia menegaskan bahwa lingkungan menawarkan sejumlah kemungkinan (posibilities) kepada manusia untuk hidup dan berkembang. Atas dasar itu, Vidal mengemukakan konsepnya yang disebut genre de vie atau mode of live (cara hidup). Dalam konsep ini, geografi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana proses produksi dilakukan manusia terhadap kemungkinan yang ditawarkan oleh alam.
8. Halford Mackinder (1861–1947)
            Mackinder adalah pengajar di Universitas Oxford. Pendapatnya tentang geografi sangat terkenal lewat makalahnya yang berjudul The Scope and Methods of Geography yang berisi konsep man-land relation (hubungan manusia dengan lahan) dalam geografi. Ia menyatakan bahwa geografi adalah ilmu yang fungsi utamanya menyelidiki interaksi manusia dalam masyarakat dengan lingkungan yang berbeda menurut lokasinya.
9. Bintarto
            Bintarto adalah guru besar geografi di Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia mengatakan bahwa geografi pada dasarnya adalah ilmu pengetahuan yang mencitrakan, menerangkan sifat-sifat Bumi, menganalisis gejala-gejala alam dan penduduk, serta mempelajari corak yang khas tentang kehidupan dari unsur-unsur Bumi.
10. Daldjoeni
            Nama Daldjoeni dikenal karena buku-bukunya yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan geografi. Menurutnya, geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mengajarkan manusia mencakup tiga hal pokok, yaitu spasial (ruang), ekologi, dan region (wilayah). Dalam hal spasial, geografi mempelajari persebaran gejala baik yang alami maupun manusiawi di muka Bumi. Kemudian dalam hal ekologi, geografi mempelajari bagaimana manusia harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Adapun dalam hal region, geografi mempelajari wilayah sebagai tempat tinggal manusia berdasarkan kesatuan fisiografisnya.
11 . Seminar Lokakarya Ikatan Geograf Indonesia (IGI) di Semarang 1988
            Dari seminar peningkatan kualitas pengajaran geografi ini dihasilkan rumusan geografi sebagai ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan atau kelingkungan dalam konteks keruangan.
            Jika kita perhatikan beberapa definisi atau pengertian dan sejarah perkembangan geografi dari masa ke masa selalu mengalami perkembangan. Namun, apabila kita kaji lebih jauh, di antara pandangan para ahli tersebut tampak ada kesamaan titik pandang.
Kesamaan titik pandang tersebut terutama dalam mengkaji:
1. Bumi sebagai tempat tinggal,
2. hubungan manusia dengan lingkungannya (interaksi),
3. dimensi ruang dan dimensi historisnya, serta
4. pendekatan, yaitu meliputi pendekatan spasial (keruangan), ekologi (kelingkungan), dan regional (kewilayahan).







BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
            Metode penelitian ilmu geografi adalah cara-cara ilmiah yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam  upaya memahami suatu permasalahan dalam pembelajaran dan pendidikan  geografi serta menemukan pemecahannya.
            Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum. Generalisasi menghubungkan beberapa konsep  sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu pola hubungan yang bermakna yang  menggambarkan hal yang lebih luas.
            Teori-teori geografi itu sendiri beragam para ahli yang telah dikemukakannya di atas. Merupakan penunjang dalam ilmu geografi tersebut.

  1. Kritik
            Masih banyak sekali kekurangan dalam pembuatan makalah ini, maka kami sebagai penyusun menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan dari makalah ini.

  1. Saran
            Untuk memajukan pemahaman dalam makalah pengantar ilmu sosial yang efektif ini, kami rasa perlu memberikan saran kepada pembaca tentang subtansi ini. Mari kita perbaiki agar menjadi lebih efektif lagi.





DAFTAR PUSTAKA

____,_____Metode penelitian ilmu geografi. Diambil 18 Maret 2013, dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Geografi#Metode

Budisma,___. Metode penelitian geografi. Diambil 18 Maret 2013, dari : http://budisma.web.id/materi/sma/geografi/metode-penelitian-geografi/

____,___. Generalisasi Geografi. Diambil 18 Maret 2013, dari : http://geografi.upi.edu/HD-MPPG.pdf

Megi Rahman, 2011. Teori Geografi. Diambil 18 Maret 2013, dari : http://megi-rahman.blogspot.com/2011/01/ html














Makalah Belajar dan Pembelajaran


PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN

DISUSUN OLEH:
Kelompo         : 8

                        EULIS KURNIATI      (2011 133 353)       

 
KELAS: H
KELOMPOK: 07
MATA KULIAH: BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
DOSEN PENGASUH           : Drs. SYAMSURI, MM


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2011/2012





KATA PENGANTAR
   ASSALAMUALLAIKUM.WR WB
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas terlaksananya pembuatan makalah “Belajar dan Mengajar yang Efektif“ yang disusun oleh kelompok tujuh dalam pengerjaan tugas bidang studi Belajar dan Pembelajaran sebagai usaha dalam peningkatan pengetahuan serta melatih keaktifan mahasiswa/ mahasiswi dalam berlangsungnya proses belajar mengajar.
            Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat  bantuan dari berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Syamsuri, MM, selaku  dosen pembimbing mata kuliah Belajar dan Pembelajaran, anggota kelompok penyusunan makalah, serta mahasiswa/I kelas 3H yang secara langsung atau tidak langsung menuangkan ide atau inspirasi dalam penyusunan makalah ini.
            Kegiatan penyusunan makalah ini merupakan tugas pelatihan kelompok, yang masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan kemampuan kelompok, maka penyusunan makalah ini masih sangat jauh dari sempurna untuk itu saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah yang kami buat ini.
                                                                       

Palembang,  Desember 2012




   Kelompok Tujuh







DAFTAR ISI


BAB I.   Pendahuluan
A.    Latar belakang masalah
B.     Rumusan masalah
C.     Tujuan penulisan

BAB II.  Pembahasan
A.    Cara mengelola kegiatan belajar mengajar yang efektif
B.     Cara belajar yang efektif
C.     Mengajar yang efektif
D.    Peran guru
E.     Tuntutan guru

BAB III.  Penutup
A.    Kesimpulan
B.     Kritik
C.     Saran

Daftar Pustaka





BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
             Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif pendidikan di dalam lingkungan sekolah dengan kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar lingkungan sekolah dalam wujud penyediaan beragam pengalaman belajar untuk semua peserta didik. Ini berarti, diversifikasi kurikulum tidak terbatas pada diversifikasi materi, tetapi juga terjadi pada diversifikasi pengalaman belajar, diversifikasi tempat dan waktu belajar, diversifikasi alat belajar, diversifikasi bentuk organisasi kelas, dan diversifikasi cara penilaian.
            Pandangan ini memberikan dampak pada penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Bila selama ini kegiatan belajar mengajar hanya ditandai kegiatan satu arah penuangan informasi dari guru ke siswa dan hanya dilaksanakan dan berlangsung di sekolah maka kegiatan belajar mengajar dengan nuansa Kurikulum Berbasis Kompetensi diindikasikan dengan keterlibatan siswa secara aktif dalam membangun gagasan/pengetahuan oleh masing-masing individu dan lazimnya dapat diselenggarakan di beberapa lokasi seperti di kelas, di lingkungan sekolah, di perpustakaan, di laboratorium, di pasar, di toko, di pantai, di tempat rekreasi, di kebun binatang, atau di tempat-tempat lain.
             Kegiatan belajar mengajar dirancang mengikuti prinsip-prinsip belajar-mengajar. Belajar mengajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman.
            Dengan demikian, guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar berada pada diri siswa, tetapi guru bertangung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat.

B.   Perumusan Masalah
            Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan penjelasan mengenai “Perubahan Sosial Dalam Masyarakat”. Untuk memberi kejelasan serta menghindari meluasnya pembahasan maka dalam makalah ini masalahnya dibatasi pada:
1)      Bagaimana cara mengelola kegiatan belajar mengajar yang efektif ?
2)      Bagaimana cara belajar yang efektif ?
3)      Bagaimana mengajar yang efektif ?
4)      Bagaimana peran guru ?
5)      Bagaimana tuntutan guru ?


C.   Tujuan
            Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini adalah unutuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pancasila.
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah:
1)      Untuk mengetahui cara mengelola kegiatan belajar mengajar yang efektif
2)      Untuk mengetahui cara belajar yang efektif
3)      Untuk mengetahui mengajar yang efektif
4)      Untuk mengetahui bagaimana peran guru
5)      Untuk mengetahui bagaimana tuntutan guru








                                               BAB II
PEMBAHASAN
  1. CARA MENGELOLA KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR YANG EFEKTIF
            Pengelolaan kegiatan belajar mengajar di kelas dan di luar kelas meliputi pengelolaan tempat belajar/ruang kelas, pengelolaan siswa, pengelolaan kegiatan pembelajaran, pengelolaan materi pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, dan pengelolaan strategi dan evaluasi kegiatan pembelajaran.
1.       Pengelolaan Tempat Belajar
            Tempat belajar seperti ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAKEM (Pendekatan Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya.
2.      Pengelolaan Siswa
            Biasanya, pengelolaan siswa dilakukan dalam beragam bentuk seperti individual, berpasangan, kelompok kecil, atau klasikal. Beberapa pertimbangan perlu diperhitungkan sewaktu melakukan pengelolaan siswa. Antara lain jenis kegiatan, tujuan kegiatan, keterlibatan siswa, waktu belajar, dan ketersediaan sarana/prasarana. Hal yang sangat penting perlu diperhitungkan adalah keberagaman karakteristik siswa. Guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda. Untuk itu, perlu dirancang kegiatan belajar mengajar dengan suasana yang memungkinkan setiap siswa memperoleh peluang sama untuk menunjukkan dan mengembangkan potensinya.
3.       Pengelolaan Kegiatan Pembelajaran
            Dalam mengelola kegiatan pembelajaran, guru perlu merencanakan tugas dan alat belajar yang menantang, pemberian umpan balik, dan penyediaan program penilaian yang memungkinkan semua siswa mampu ‘unjuk kemampuan/mendemonstrasikan kinerja (performance)’ sebagai hasil belajar. Inti dari penyediaan tugas menantang ini adalah penyediaan seperangkat pertanyaan yang mendorong siswa bernalar atau melakukan kegiatan ilmiah. Para ahli menyebutkan jenis pertanyaan ini sebagai ‘pertanyaan produktif’. Karena itu, dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran ini guru perlu memiliki kemampuan merancang pertanyaan produktif dan mampu menyajikan pertanyaan sehingga memungkinkan semua siswa terlibat baik secara mental maupun secara fisik. Dengan demikian, sedikitnya ada tiga hal strategis yang perlu dikuasai guru dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran yaitu, penyediaan pertanyaan yang mendorong berpikir dan berproduksi, penyediaan umpan balik yang bermakna, dan penyediaan penilaian yang memberi peluang semua siswa mampu melakukan unjuk-perbuatan.
• Penyediaan Pertanyaan yang Mendorong Siswa Berpikir dan Berproduksi
            Alat mengajar yang paling murah tetapi ampuh adalah bertanya. Pertanyaan dapat membuat siswa berpikir. Jika salah satu tujuan mengajar adalah mengembangkan potensi siswa untuk berpikir, maka tujuan bertanya hendaknya lebih pada ‘merangsang siswa berpikir’. Merangsang berpikir dalam arti’‘merangsang siswa menggunakan gagasan sendiri dalam menjawabnya’ bukan mengulangi gagasan yang sudah dikemukakan guru.
• Penyediaan Umpan Balik yang Bermakna
            Umpan balik adalah respon/reaksi guru terhadap perilaku siswa. Apa yang dilakukan guru ketika siswa bertanya? Ketika siswa berpendapat? Ketika siswa menunjukkan hasil kerja? Ketika siswa membuat kesalahan? Umpan balik yang baik adalah respon guru yang bersifat tidak ‘memvonis’. “Salah!”, “Bukan!”, “Tidak”!”, “Baik!”, atau “Betul!”, merupakan umpan balik yang memvonis. Umpan balik yang bersifat memvonis menjadikan siswa tergantung pada guru. Ucapan siswa yang berbunyi: “Pak/Bu, ini betul tidak?” “Ini boleh tidak?” merupakan ungkapan yang menunjukkan ketergantungan siswa kepada guru. Mereka tidak dapat atau tidak berani memutuskan/menilai sendiri apa yang dilakukannya. Sedangkan umpan balik yang tidak memvonis membuat siswa merasa dihargai, dapat berpikir, dan bertanggung jawab untuk menilai mutu gagasan sendiri.
• Penyediaan Program Penilaian yang Mendorong Semua Siswa Melakukan Unjuk kerja
            Menilai adalah mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar siswa, tentang apa yang sudah dikuasai dan belum dikuasai siswa. Informasi tersebut diperlukan agar guru dapat menentukan tugas/ kegiatan atau bantuan apa yang perlu diberikan berikutnya kepada siswa agar pengetahuan, kemampuan, dan sikap mereka lebih berkembang lagi. Oleh karena itu, penilaian sebaiknya dilakukan secara alami dalam konteks guru mengajar dan siswa belajar, tidak diadakan secara khusus, dalam waktu yang khusus, terpisah dari kegiatan belajar-mengajar, seperti tes.
4.      Pengelolaan Isi/Materi Pembelajaran
            Agar guru dapat menyajikan pelajaran dengan baik, dalam mengelola isi pembelajaran paling tidak guru harus menyiapkan rencana operasional kegiatan belajar mengajar dalam wujud silabus terlebih dahulu. Demikian pula, bagi guru SD kelas rendah (kelas I dan II) yang siswanya masih berperilaku dan berpikir kongkrit, pembelajaran sebaiknya dirancang secara terpadu dengan menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran. Dengan cara ini, pembelajaran untuk siswa usia kelas I dan II menjadi lebih bermakna, lebih utuh, dan sangat kontekstual dengan dunianya, dunia anak usia dini.
5.       Pengelolaan Sumber Belajar
            Dalam mengelola sumber belajar sebaiknya memperhatikan sumber daya yang ada di sekolah dan melibatkan orang-orang yang ada di dalam system sekolah tersebut. Pembahasan tentang pengelolaan sumber belajar meliputi sumber daya sekolah dan pemanfaatan sumber daya lingkungan sekolah.
a. Sumber Daya Sekolah
            Sumber daya sekolah harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam upaya menciptakan iklim sekolah sebagai komunitas masyarakat belajar. Mengapa demikian, karena pencapaian kompetensi tidak hanya dapat dilakukan melalui pembelajaran di kelas. Iklim fisik dan psikologis juga sangat menentukan hasil belajar yang dicapai siswa.
b. Pemanfaatan Sumber Daya Lingkungan
            Pemanfaatan sumber daya lingkungan diperlukan dalam upaya menjadikan sekolah sebagai bagian integral dari masyarakat setempat. Sekolah bukanlah tempat yang terpisah dari masyarakatnya. Dengan cara ini fungsi sekolah sebagai pusat pembaharuan dan pembangunan sosial budaya masyarakat akan dapat diwujudkan. Selain itu, lingkungan sangat kaya dengan sumber-sumber, media, dan alat bantu pelajaran. Lingkungan fisik, sosial, atau budaya merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar).

  1. CARA BELAJAR YANG EFEKTIF
1.         Perlunya Bimbingan
Pada pandangan dan paradigm ini, makna dan hakikat Belajar diartikan sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru. Hal ini terbukti, yakni hasil ulangan para siswa berbeda-beda padahal mendapat pengajaran yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama.
Dalam hal belajar ada cara-cara yang efisien dan tidak efisien. Banyak siswa tidak mendapatkan hasil yang baik dalam pembelajaran karena mereka tidak mengetahui cara-cara belajar yang efektif. Mereka kebanyakan haya mencoba menghafal pelajaran.
2.         Kondisi dan Strategi Belajar
Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan intruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan cara belajar yang efektif perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini :
a)      Kondisi Internal
Yang dimaksud dengan kondisi internal yaitu kondisi (situasi) yang ada di dalam diri siswa itu sendiri misalnya kesehatannya, keamanannya, ketentramannya dan sebagainya. Siswa dapat belajar dengan baik apabila kenutuhan internalnya dapat terpenuhi. Menurut Maslow ada 7 jenjang kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi, yakni:
1)      Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan jasmani manusia, misalnya kebutuhan akan makan, minum, tidur, istirahat dan kesehatan.
2)      Kebutuhan akan keamanan. Manusia membutuhkan ketentraman dan keamanan jiwa. Perasaan kecewa, dendam, takut akan kegagalan, ketidakseimbangan mental dan kegoncangan emosi yang lain dapat mengganggu kelancaran belajar seseorang.
3)      Kebutuhan akan kebersamaan dan cinta. Manusia dalam hidup membutuhkan kasih sayang dari orang tua, saudara dan teman-teman yang lain. Disamping itu ia akan merasa berbahagia apabila dapat membantu dan memberikan cinta kasih pada orang lain pula.
4)      Kebutuhan akan status (misalnya keinginan akan keberhasilan). Untuk kelancaran belajar, perlu optimis, percaya akan kemampuan diri, dan yakin bahwa ia dapat menyelesaikan tugas dengan baik.
5)      Kebutuhan self-actualisation. Belajar yang efektif dapat diciptakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, image seseorang. Tiap orang tentu berusaha memenuhi keinginan yang dicita-citakan.
6)      Kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti yaitu kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu, mendapatkan pengetahuan, informasi dan untuk mengerti sesuatu.
7)      Kebutuhan estetik yaitu kebutuhan yang dimanifestasikan sebagai kebutuhan akan keteraturan, keseimbangan dan kelengkapan dari suatu tindakan.
b)      Kondisi Eksternal
Yang dimaksud dengan kondisi eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia, umpamanya kebersihan rumah, penerangan, serta keadaan lingkungan fisik yang lain. Untuk dapat belajar yang efektif diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur, misalnya :
1)      Ruang belajar harus bersih, tak ada bau-bauan yang mengganggu konsentrasi pikiran
2)      Ruangan cukup terang, tidak gelap yang dapat mengganggu mata
3)      Cukup sarana yang diperlukan untuk belajar, misalnya alat pelajaran, buku-buku dan sebagainya
c)      Strategi Belajar
Belajar yang efisien dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat. Stategi belajar diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin.
Cara belajar yang baik mengumpulkan berbagai macam petunjuk yang penting seperti berikut ini :
1)      Keadaan jasmani. Belajar memerlukan tenaga. Karena itu untuk mencapai hasil yang baik diperlukan keadaan jasmani yang sehat.
2)      Keadaan emosional dan sosial. Siswa yang merasa jiwanya tertekan, yang selalu dalam keadaan takut akan kegagalan, yang mengalami kegoncangan karena emosi-emosi yang kuat tidak akan pernah efektif.
3)      Keadaan lingkungan. Tempat belajar hendaknya tenang, jangan diganggu oleh perangsang-perangsang dari sekitar. Untuk belajar diperlukan kosentrasi pikiran, jangan sampai belajar sambil mendengarkan.
4)      Memulai belajar. Pada permulaan belajar sering dirasakan kelambatan, keenggaan bekerja. Kalau perasaan itu kuat, belajar itu sering diundurkan, malahan tak dikerjakan.
5)      Membagi pekerjaan. Sebelum memulai pekerjaan lebih dahulu menentukan apa yang dapat dan harus diselesaikan dalam waktu tertentu.
6)      Adakan control. Selidiki pada akhir belajat, hingga manakah bahan itu telah dikuasai.
7)      Pupuk sikap optimis. Lakukan segala sesuatu dengan sesempurnanya, pekerjaan yang baik memupuk suasana kerja yang menggembirakan.
8)      Waktu bekerja. Waktu yang tepat kita jadikan alau untuk memerintah diri kita. Menyeleweng dari waktu itu berarti kegagalan.
9)      Buatlah suatu rencana kerja. Dengan adanya suatu rencana kerja dengan pembagian waktu, tampaklah bahwa selalu cukup waktu untuk belajar.
10)  Menggunakan waktu. Menghasilkan sesuatu hanya mungkin jika kita menggunakan waktu dengan efisien.
11)  Belajar keras tidak merusak. Belajar dengan penuh konsentrasi tidak merusak. Yang merusak ialah menggunakan waktu tidur untuk belajar.
12)  Cara mempelajari buku. Sebelum kita memulai membaca buku lebih dahulu kita coba memperoleh gambaran tentang buku dalam garis besarnya.
13)  Mempertinggi kecepatan membaca. Seorang pelajar harus sanggup menghadapi isi yang sebanyak-banyaknya dari bacaan dalam waktu sesingkat-singkatnya.
14)  Jangan membaca belaka. Membaca belaka tidak berapa manfaatnya, membaca bukanlah sekedar mengetahui kata-katanya, akan tetapi mengikuti jalan pikiran si pengarang.

  1. MENGAJAR YANG EFEKTIF
            Mengajar adalah membimbing siswa agar mengalami proses belajar. Mengajar yang efektif ialah mengajar yang dapat membawa belajar siswa yang efektif pula. Belajar disini adalah suatu aktifitas mencari, menemukan dan melihat pokok masalah.
            Untuk melaksanakan mengajar yang efektif diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :
1)      Belajar secara aktif, baik mental ataupun fisik. Di dalam belajar siswa hrus mengalami aktifitas mental, misalnya pelajar dapat mengembangkan kemampuan.
2)      Guru harus mempergunakan banyak metode pada waktu mengajar. Variasi metode mengakibatkan penyajian bahan pelajaran lebih menarik perhatian siswa, mudah diterima siswa, dan kelas menjadi hidup.
3)      Motivasi, hal ini sangat berperan pada kemajuan, perkembangan siswa selanjutnya melalui proses belajar.
4)      Kurikulum yang baik dan seimbang. Kurikulum sekolah yang memenuhi tuntutan masyarakat dikatakan bahwa kurikulum itu baik dan seimbang.
5)      Guru perlu mempertimbangkan perbedaan individual. Guru tidak cukup hanya merencanakan pengajaran klasikal, karena masing-masing siswa mempunyai perbedaan dalam beberapa segi, misalnya intelegensi, bakat, tingkah laku, sikap dan lain-lainnya.
6)      Guru akan mengajar efektif bila selalu membuat perencanaan sebelum mengajar.
7)      Pengaruh guru yang sugestif perlu diberikan pula pada siswa. Sugesti yang kuat akan merangsang siswa untuk lebih giat belajar.
8)      Seorang guru harus memiliki keberanian menghadapi siswa-siswanya, juga masalah-masalah yang timbul waktu proses mengajar belajar berlangsung.
9)      Guru harus mampu menciptakan suasana yang demokratis. Lingkungan yang saling menghormati, dapat mengerti kebutuhan siswa untuk belajar sendiri, berdiskusi untuk mencari jalan keluar.
10)  Pada penyajian bahan pelajaran pada siswa, guru perlu memberikan masalah-masalah yang merangsang untuk berfikir.
11)  Semua pelajaran yang diberikan pada siswa perlu diintegrasikan, sehingga siswa memiliki pengetahuan yang terintegrasi, tidak terpisah-pisah seperti pada system pengajaran lama, yang memberikan pelajaran secara terpisah-pisah satu sama lainnya.
12)  Pelajaran disekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan yang nyata di masyarakat.
13)  Dalam interaksi belajar mengajar, guru harus banyak member kebebasan pada siswa, untuk dapat menyelidiki sendiri, mengamati sendiri, belajar sendiri, mencari pemecahan masalah sendiri.
14)  Pengajaran remedial. Banyak factor menjadi penyebab kesulitan belajar. Guru perlu meneliti factor-faktor itu, agar dapat memberikan diagnose kesulitan belajar dan menganalisis kesulitan-kesulitan itu.

  1. PERANAN GURU
            Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing dan member fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Secara lebih terperinci tugas guru berpusat pada :
1)      Mendidik dengan titk berat memberikan arah dan motifasi pencapaian tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang
2)      Member fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai
3)      Membantu perkembangan aspek-aspek pribadi seperti sikap, nilai-nilai, dan penyesuaian diri.
            Guru hanya merupakan salah satu diantara berbagai sumber dan media belajar. Maka dengan demikian peranan guru dalam belajar ini menjadi lebih luas dan lebih mengarah kepada peningkatan motivasi belajar siswa.
            Guru senantiasa berusaha untuk menimbulkan, memelihara dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Beberapa penelitian menunjukan bahwa motif berprestasi mempunyai kolerasi positif dan cukup berarti terhadap pencapaian prestasi belajar. Hal ini berarti bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar banyak ditentukan oleh tinggi rendahnya motif berprestasi. Dalam hubungan ini guru mempunyai fungsi sebagai motivator dalam keseluruhan kegiatan belajar mengajar.

  1. TUNTUTAN GURU
            Guru yang dapat berperan sebagai pembimbing yang tidak menimbulkan pertentangan :
1.      Mengajar mata pelajaran, yaitu guru yang :
  1. Dapat menimbulkan minat dan semangat belajar siswa-siswa melalui mata pelajaran yang diajarkannya
  2. Memiliki kecakapan untuk memimpin
  3. Dapat menghubungkan materi pelajaran dengan pekerjaan-pekerjaan praktis
2.      Hubungan siswa dengan guru yaitu guru yang :
  1. Dicari oleh siswa untuk memperoleh nasihat dan bantuan
  2. Mencari kontak dengan siswa di luar kelas
  3. Memimpin kegiatan kelompok
  4. Memiliki minat dalam pelayanan sosial
  5. Membuat kontak dengan orang tua siswa
3.      Hubungan guru dengan guru yaitu guru yang :
  1. Menunjukan kecakapan bekerja sama dengan guru lain
  2. Tidak menimbulkan pertentangan
  3. Menunjukan kecakapan untuk berdiri sendiri
  4. Menunjukan kepemimpinan yang baik dan tidak mementingkan diri sendiri
4.      Pencatatan dan penelitian, yaitu guru yang :
  1. Mempunyai sikap ilmiah objektif
  2. Lebih suka mengukur dan tidak menebak
  3. Berminat dalam masalah-masalah penelitian
  4. Efisien dalam pekerjaan tulis menulis
  5. Melihat kesempatan untuk penelitian dalam kegiatan tulis menulis
5.      Sikap professional, yaitu guru yang :
  1. Sukarela untuk melakukan pekerjaan ekstra
  2. Telah menunjukan dapat menyesuaikan diri dan sabar
  3. Memiliki sikap yang konstruktif dan rasa tanggung jawab
  4. Berkemauan untuk melatih diri
  5. Memiliki semangat untuk memberikan layanan kepada siswa, sekolah dan masyarakat





BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
            Belajar adalah suatu aktifitas mencari, menemukan dan melihat pokok masalah. Mengajar adalah membimbing siswa agar mengalami proses belajar. Mengajar yang efektif ialah mengajar yang dapat membawa belajar siswa yang efektif pula.
            Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing dan member fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa.

  1. Kritik
            Masih banyak sekali kekurangan dalam pembuatan makalah ini, maka kami sebagai penyusun menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan dari makalah ini.

  1. Saran
            Untuk memajukan pemahaman dalam makalah belajar dan mengajar yang efektif ini, kami rasa perlu memberikan saran kepada pembaca tentang subtansi ini. Mari kita perbaiki cara belajar dan mengajar agar menjadi lebih efektif lagi.

  


DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Sudrajat, 2007. Kegiatan Belajar Mengajar. Diambil 20 Desember 2012, dari : http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2007/05/kbm-yang-efektif.pdf
Drs. Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta, 2010.
____, 2007. Belajar mengajar yang efektif. Diambil 20 Desember 2012, dari : http://gora.edublogs.org/2007/04/09/kompetisi-nasional-guru-inovatif-2007/